Ukhti-ukhti bau badan?

Beberapa waktu yang lalu, sebuah cuitan melintasi timeline saya. Pengguna medsos tersebut mengeluhkan bau badan yang tidak sedap dari sekumpulan ‘ukhti-ukhti’ saat berburu buku di sebuah toko. Dia juga mempertanyakan kenapa mereka tidak mau memakai deodoran atau parfum padahal ada beberapa alternatif produk wewangian yang bebas alkohol, apabila mereka memang berkeberatan dengan penggunaan alkohol.

Label ‘ukhti-ukhti’ lekat kaitannya dengan muslimah yang sangat taat pada kepercayaannya. Dalam Islam sendiri terdapat aturan terkait penggunaan wewangian termasuk juga perbedaan beberapa pendapat atau kepercayaan, mulai dari yang bersifat ekstrim, moderat hingga liberal. Dengan demikian, ada sebagian ‘ukhti-ukhti’ yang sangat selektif dengan penggunaan parfum dan sejenisnya.

Terus terang saja, saya agak relate dengan cuitan itu karena dulu ada satu ‘ukhti’ yang memiliki masalah ini. Tidak berani memberi tahu kalau dia bau badan, tapi karena dia teman saya jadi langsung saja saya kasih saran yang sedikit memerintah, “atuh xxxx (nama), pakai parfum biar seger dan wangi.” Kira-kira begitu.

Untung dia paham. Beberapa waktu setelahnya, dia sudah memiliki wangi yang berbeda meskipun berbau agak aneh. Wanginya seperti parfum orang tua, nenek-kakek. Sepertinya dia memakai wewangian semacam campuran essential oil, yang biasa dipakai orang tua asuhnya. Saya tanyakan mengapa pakai parfum itu. Dia agaknya ragu memakai parfum di pasaran untuk anak muda karena kebanyakan memiliki bau menyengat sedangkan lingkungan pesantrennya agak strict.

Untuk landasan-landasan mengenai larangan dan aturan penggunaan parfum, bisa ditemukan pada tautan berikut: bolehkah wanita memakai parfum? Pembahasan pada artikel tersebut sudah cukup bisa menggambarkan aturan yang secara umum diyakini para muslim.

Berikut, saya tuliskan kesimpulan dari uraian di artikel tadi. Muslimah boleh memakai parfum jika:

  1. Hanya di dalam rumah, dan tidak ada lelaki non-mahram
  2. Di luar rumah, dan hanya melawati para wanita
  3. Di luar rumah, hanya wangi samar untuk menghilangkan bau badan

Muslimah tidak boleh memakai parfum jika:

  1. Di luar atau di dalam rumah sedangkan ia melewati lelaki non-mahram

Intinya, muslimah boleh memakai wewangian asal tidak menyengat (hanya sekedar menutupi bau badan) dan tidak ditujukan untuk menarik perhatian lawan non-mahram. Sementara itu, kandungan alkohol pada parfum seharusnya tidak menjadi masalah. Sebagian besar muslim meyakini bahwa alkohol hanya haram untuk dikonsumsi. Selain untuk non-pangan, alkohol atau etanol pada produk perawatan/kecantikan boleh dipakai dan tidak membatalkan solat.

Ringkasan di atas adalah kepercayaan umum. Namun, tentu praktisnya akan sangat bergantung pada diri masing-masing. Barangkali ada faktor lain seseorang tidak menggunakan parfum atau deodoran untuk mengatasi masalah ini, misalnya dia memang tidak sadar memiliki bau badan yang parah. 

Ketika hidung sudah terbiasa dengan bau badan secara berangsur dalam waktu yang lama, indera penciuman menjadi tidak peka terhadap bau sendiri, kecuali dia mengendus lebih seksama sumber bau badan, misalnya mengendus ketiak sendiri. 

Orang lain pun sering sekali segan untuk memberitahu yang bersangkutan. Kadang hanya memberikan clue atau tanda tidak langsung. Ada yang peka, ada juga yang tidak peka atau malah sakit hati dengan clue yang disampaikan. Hal ini juga sering terjadi manakala berhadapan dengan orang dengan bau napas. Serba salah, tapi kasihan kalau kita biarkan.

Penyebab bau badan

Orang-orang pada umumnya menyalahkan keringat sebagai penyebab bau badan. Padahal, keringat itu tidak memiliki bau. Bau badan sendiri muncul ketika keringan yang berada di daerah berambut atau lipatan, seperti ketiak, bercampur dengan bakteri. 

Keringat secara umum mengandung air dan garam, tetapi keringat di daerah lipatan dan rambut mengandung lemak sehingga terasa lebih kental. Apabila seseorang tidak memperhatikan kebersihan daerah-daerah tersebut dengan baik, keringat akan bercampur dengan bakteri dan menghasilkan bau.

Tingkatan bau badan juga bermacam-macam tergantung kebersihan kulit, jumlah bakteri, jenis makanan yang dikonsumsi dll. Bau masam yang rendah masih bisa ditoleransi dan bisa hilang dengan pelembut atau pewangi pakaian tanpa parfum tubuh atau deodoran. Akan tetapi, bau badan menusuk hidung tidak akan bisa tersamarkan dengan wewangian saja.

Ini adalah pengalaman pribadi saya dulu. Bau badan menusuk malah semakin tidak karuan ketika bercampur dengan parfum atau wewangian tanpa langkah-langkah penanganan yang baik. Maka, sangat dianjurkan untuk mengimbangi penggunaan wewangian dengan penanganan sumber bau.

Mengatasi bau badan

Karena penyebab bau badan adalah bakteri, menjaga kebersihan diri adalah langkah nomor 1 yang harus dilakukan secara konsisten. Tidak sekedar mandi, tapi lebih detail dalam hal pemilihan sabun, frekuensi mandi/bersih-bersih dengan memahami intensitas keringat dll.

Memperhatikan keringat yang muncul juga penting. Apakah kita memang menghasilkan keringat normal atau berlebihan? Jika sudah memahami keadaan tubuh, kita bisa menyiapkan hal-hal untuk menjaga kulit tetap kering karena bakteri tidak mudah bereaksi ketika kulit kering.

Penggunaan dedoran dan antiperspiran menjadi langkah tercepat untuk mengatasi bau badan atau keringat. Deodoran biasanya mengandung alkohol dan zat antibakteri. Cara kerjanya adalah dengan menghambat perkembangan bakteri. Sementara itu, antiperspian mencegah ketiak menjadi basah dengan membentuk lapisan gel yang menyumbat keringat.

Hal terakhir, kita harus memperhatikan asupan makanan. Ada beberapa makanan yang bisa memicu peningkatan bau badan, misalnya alkohol, kopi, bawang putih, dan makanan pedas. 

Bukan berarti tidak boleh mengonsumsi makanan tersebut sama-sekali, tapi kita sebaiknya sadar untuk lebih menjaga kebersihan ketika memakan bahan-bahan seperti yang disebutkan tadi.

Bahan alami

Ada beberapa bahan alami untuk mengatasi bau badan. Bahan-bahan berikut ini ada yang bisa diminum air rebusannya atau dioleskan ke tubuh: daun sirih, cuka apel, daun kemangi, jeruk nipis, kunyit, dan jahe. Silakan lihat lebih jauh cara pengolahannya di Google. 

Jadi, ukhti-ukhti sekalian, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mengganggu indera penciuman orang lain. Mulai dari kesadaran diri dulu dengan mencium ketiak saat produksi keringat muncul! Rasakan ‘kesegarannya’! hehehe Terakhir, perhatikan kebersihan dan pakai bahan-bahan atau produk untuk mengatasi bau badan secara konsisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *