Skandal SPF Sunscreen yang Tidak Sesuai Klaim

Skandal SPF pada produk sunscreen terjadi kembali. Kali ini tuduhan liar menimpa suatu produk tabir surya yang katanya sedang viral di Tiktok. Saya tidak mau sebut nama karena belum ada konfirmasi resmi dari merk yang diperbincangkan. Lagi pula, toko resmi dan instagramnya menunjukkan bahwa mereka masih menjual produk sunscreen-nya dan tidak ada penarikan barang.

Awal mulanya, ada seorang content creator Tiktok yang menguji SPF pada sunscreen dari berbagai merk. Tentu nama-nama merknya dia tutupi karena ternyata ada hasil yang kurang baik dimana kandungan SPF tidak sesuai dengan klaim. Bedanya jauh banget. Misal, angka yang diklaim SPF 50, tapi ternyata hasil uji lab menunjukkan SPF 2. Banyak orang yang was-was dan main tebak-tebakan merk mana yang dimaksud.

Duh, jadi teringat skandal spf di produk-produk Korea dulu. Mereka sangat sensitif dan menanggapi serius tuduhan tersebut. Langsung menguji produk kembali dan memberikan konfirmasi terkait isu tersebut. Gercep! Orang-orang tidak dibuat mengambang.

Eitsss ini juga sama kok. Malah merk-merk yang tidak digosipkan pun ikut menguji produk mereka kembali dan menampilkan hasil uji labnya ke publik. Memang harus begini sih!

Dari kasus ini, saya mempelajari kembali arti dari angka SPF. Ada tiga poin yang menjadi pengetahuan baru untuk saya. Pertama, semakin tinggi SPF, semakin kental teksturnya. Sekarang saya merasa wajar apabila ada produk tabir surya berSPF tinggi yang terasa tidak enak di kulit, seperti sulit diratakan atau agak berat dan berminyak.

Kedua, SPF 30 sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari di iklim tropis Indonesia. Yang terpenting adalah penggunaan yang tepat. Tabir surya bentuk kimia memerlukan waktu sekitar 15 menit untuk bekerja dengan baik. Jadi, tunggu 15 menit setelah pemakaian, baru kita bisa beraktivitas di luar. Kita juga perlu reapply atau menggunakan tabir surya kembali setelah beberapa jam pemakaian, terutama jika produk terbawa keringat atau air.

SPF tinggi seperti 50 tidak akan bekerja efektif apabila kita tidak mengikuti cara pemakaian yang benar. Sebaliknya, malah akan ada resiko paparan bahan kimia tambahan terhadap kulit. Saya juga menjadi tidak heran ketika ada teman berkulit sensitif mengeluhkan rasa perih saat mencoba beberapa produk tabir surya. Ada peningkatan resiko bagi pemilik kulit sensitif.

Pola pikir konsumen cenderung lebih mementingkan angka dari pada kebutuhan. Kebanyakan produsen mengeluarkan sunscreen berSPF 50 untuk mengikuti keinginan konsumen tersebut. Padahal, perlu usaha ekstra untuk membuat produk SPF 50 bertekstur cair dan nyaman, yang mana akan mempengaruhi komposisi dan harga.

Poin terakhir adalah korelasi kemampuan dan angka SPF. Saya kutip dari website lain mengenai apa itu SPF.

  • SPF 2 blocks 50% of UV rays
  • SPF 4 blocks 75% of UV rays
  • SPF 10 blocks 90% of UV rays
  • SPF 15 blocks 93% of UV rays
  • SPF 30 blocks 97% of UV rays
  • SPF 50 blocks 98% of UV rays
  • SPF 100 blocks 99% of UV rays

Dari informasi di atas, saya merasa kemampuan SPF 15 juga sudah lumayan. Sementara itu, secara teori perbedaan kemampuan memblok sinar UV antara SPF 30 dan 50 tidak begitu signifikan. Jadi, tidak perlu khawatir jika memakai produk tabir surya yang berSPF kurang dari 50.

Well, inti dari skandal SPF ini sih memang bukan mencari angka SPF mana yang lebih bagus, tapi kesesuaian klaim yang diberikan produsen. Hanya saja, sebagai konsumen kita harus lebih banyak belajar dalam memilih produk perawatan supaya tidak menjadi korban iklan dan ke-viral-an produk di media sosial.

Tentu, untuk para produsen, saya kira akan jauh lebih baik jika bisa menunjukkan bukti pendukung seperti hasil uji lab untuk setiap klaim yang ditampilkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *