Pengalaman Kuliah S2 di UPI: Pendidikan Bahasa Inggris

Pengalaman Kuliah S2 di UPI pernah saya bagikan di blog lama, rahmaediary.com, dan ternyata beberapa orang masih membacanya. Berhubung sedang migrasi ke blog baru ini, saya ingin menulis ulang pengalaman kuliah S2 di UPI dulu. Terlebih sekarang saya sudah lulus sehingga sudah merasakan semua tahapan-tahapan perkuliahan hingga akhir.

Opini dan pengalaman ini bersifat pribadi dan terbatas pada konteks program studi pendidikan bahasa Inggris. Mohon untuk tidak menjadikan tulisan ini sebagai acuan mutlak atau bahkan informasi resmi. Gunakan sebagai bahan pertimbangan pribadi saja.

Persiapan Kuliah S2

Saya rasa aspek penting sebelum kuliah S2 atau magister meliputi finansial, mental dan topik penelitian. Uang UKT S2 UPI pada saat saya masuk tahun 2017 adalah sekitar Rp8.522.000,- per semester. Biayanya flat alias sama setiap semester, tidak terikat total sks yang diambil. Tidak ada uang tambahan apa pun, bahkan di awal masuk dulu, tidak ada uang sumbangan atau pembangunan.

UKT S2 UPI menurut saya standard dan mungkin menjadi salah satu yang paling rendah dibandingkan kampus lain. Namun bagi sebagian orang, jumlah tersebut lumayan berat sehingga sumber dana sebaiknya dipertimbangkan sebelum berkuliah.

Apakah akan mencari beasiswa? Sudah disiapkan hingga semester akhir? Kuliah sambil kerja? Pertanyaan seperti itu perlu terjawab sebelum perkuliahan. Jangan sampai urusan finansial mengganggu pikiran di tengah-tengah nanti.

Faktor kedua, mental, menjadi tumpuan terakhir dari segala hal. Sesulit apapun masalah yang dihadapi, orang dengan mental yang baik akan bisa mencari jalan keluar dengan baik pula. Proses awal dan akhir merupakan waktu tersulit. Di awal, pasti kita akan mengalami ‘culture shock’ dengan budaya pembelajaran dan budaya lingkungan, khususnya perantau. Di akhir, kita akan bergelut dengan tugas akhir. Maka dari itu, persiapkan mental supaya siap menghadapi segala kemungkinan.

Yang terakhir adalah topik penelitian. Meskipun seandainya kita tidak diminta mengirimkan rancangan penelitian saat proses seleksi masuk, saya sangat menyarankan untuk mempersiapkan ini. Minimal, kita sudah tahu topik penelitian yang kita minati beserta teori-teori dasar pendukungnya.

Gara-gara topik penelitian, saya kesulitan dalam menulis tugas akhir sehingga ngaret kuliah S2. Orang-orang lulus di semester 4 atau 5. Saya malah lulus di semester bontot (semester 8). Sedih dan sangat ingin menyerah. Namun, seperti yang saya bilang tadi, mentalitas mulai menjalankan perannya di detik-detik terakhir.

Jadwal dan Kuliah S2 di UPI Seperti Apa?

Banyak sekali orang-orang yang overthinking mengenai jadwal dan perkuliahan nanti. Biasanya, camaba muda (fresh graduate S1) akan sangat memikirkan proses perkuliahan, sedangkan camaba yang sambil bekerja fokus pada jadwal kuliah. Kita bahas satu-satu.

Aktivitas Perkuliahan

Proses perkuliahan secara teknis sama saja seperti perkuliahan S1. Tiap minggu ada presentasi individu atau kelompok. Kadang ada tugas chapter report, seperti membuat rangkuman topik bahasan mingguan. Di pertengahan semester, kadang ada ujian tengah semester. Semua ujiannya berbentuk tulisan dan kebanyakan essai. Di akhir semester, mahasiswa harus mengikuti ujian akhir semester atau mengumpulkan makalah penelitian untuk matkul (mata kuliah) tertentu.

Komunikasi menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama untuk presentasi dan diskusi. Hampir semua dosen memang sudah berbahasa Inggris dalam menyampaikan materi. Namun, sesekali mencampur bahasa untuk komunikasi lisan supaya lebih paham saja. Untuk tulisan, pure bahasa Inggris.

Mahasiswa dengan broken English masih ‘Ok’ dan bisa dimaklumi beberapa dosen. Dengan suasana yang dibangun, kita pasti terdorong untuk berbicara bahasa Inggris kok. Yang penting adalah hadir di kelas, tugas-tugas masuk dan ikut ujian (aturan standard perkuliahan).

Di jenjang S2, kita sudah tidak berbicara “meningkatkan skill bahasa”. Itu sudah menjadi urusan masing-masing. Materi belajar fokus pada pembahasan teori bahasa, teori pembelajaran bahasa, dan penelitian.

Proses perkuliahan memang didesain agar mahasiswa mampu melakukan penelitian dan melaporkan hasilnya. Secara sederhana, kita dilatih untuk berpikir akademis, terstruktur dan logis, mulai dari penjabaran teori hingga pengambilan kesimpulan. Makalah penelitiannya bukan seperti tesis yang tebal-tebal. Lingkupnya kecil-kecil saja.

Meskipun hanya sebuah tugas, kalau dibuat dengan baik, tugas makalah bisa kita masukan ke seminar international dan menjadi pemateri di sana. Ini sangat bermanfaat karena sertifikat pemateri/speaker di seminar internasional akan menjadi salah satu syarat sidang nanti.

Nah, mungkin sudah terlihat perbedaannya, ya. Secara teknis belajarnya sama dengan S1, tapi arah/cara berpikir dan cakupan materi di S2 lebih detail lagi, mengerucut. Makalah tidak sekedar makalah yang isinya copy-paste dari sumber-sumber di internet dan bukan sekedar tugas kuliah saja. Di jurusan saya, dosen benar-benar memeriksa tugas para mahasiswanya.

Jadwal Kuliah S2 di UPI

Kualitas tugas selalu berkaitan dengan waktu. Tulisan yang baik pasti akan memerlukan waktu yang tidak sedikit. Jadi, kemampuan mengatur jadwal dan waktu sangat penting supaya tidak keteteran saat mengumpulkan tugas-tugas.

Jadwal kuliah sebenarnya bisa diatur oleh mahasiswa. Pihak prodi (program studi) akan memberikan jadwal matkul di tiap semester. Mahasiswa bisa memilih matkul apa saja dan jadwal kelas mana saja yang akan diambil.

Maksimal SKS sekitar 15 per semester. Ambil matkul wajib dulu ya, sisanya baru alokasikan untuk matkul pilihan. Rata-rata, mahasiswa mengambil 2-3 matkul pilihan (matkupil) per semester. Dulu saya ambil 11-13 SKS per semesternya, 3 matkul wajib dan 2 matkupil. Jadi, jadwal kuliah saya rata-rata 3 hari per minggu. Silakan sesuaikan saja dengan keadaan masing-masing.

Di semester 1, saya tidak mengontrak matkul sendiri. Prodi sudah mengelompokan mahasiswa per kelas dan tiap kelas sudah diberikan total matkul yang harus diambil beserta jadwalnya. Baru di semester selanjutnya, saya bisa memilih matkul dan jadwal sendiri. Namun, adik tingkat saya di tahun 2020 memiliki pengalaman berbeda. Dari awal mereka sudah bisa memilih sendiri.

Kuliah S2 di UPI untuk Non-linier

Dulu, saya agak kaget. Ternyata, ada teman di kelas yang lulus dari prodi teknik dan sastra Jerman. Ternyata, jurusan saya menerima mahasiswa lintas jurusan atau non-linier. Karena non-linier, mereka wajib mengambil matkul matrikulasi atau persamaan. Bisa diambil di semester mana saja, yang penting semua matkul itu terambil.

Nah, karena ada matkul tambahan ini, mahasiswa non-linier pada waktu itu memiliki jatah sks lebih dari 15 per semester. Perbedaan hanya pada itu saja. Yang lainnya sama.

Pengajuan Tesis

Syarat-syarat untuk mengambil matkul tesis akan diberitahukan pada masa pra-perkuliahan. Ini adalah kegiatan pengenalan akademik yang biasanya dimulai seminggu sebelum perkuliahan dan digelar selama 3 hari. Pihak prodi akan mengenalkan para dosen pembimbing akademik, cara mengontrak matkul, peraturan, tata tertib dan, yang paling penting, alur untuk lulus, termasuk persyaratan tesis.

Informasi akademik terkait persyaratan tesis dan penulisan laporan ilmiah ada pada buku pedoman UPI. Bisa dicari di internet.

Teman-teman saya rata-rata mencapai persyaratan itu setelah semester 3 berakhir, setelah ujian kualifikasi. Lulus ujian kualifikasi menjadi salah satu syarat untuk mengajukan proposal penelitian. Jika belum lulus, prodi atau dosen penguji akan memberikan kesempatan untuk mengulang atau remedial (perbaikan) sekitar 1 bulan ke depan. Nah, surat pengumuman lulus ujian kualifikasi disimpan baik-baik. Kemarin, itu menjadi salah satu syarat untuk sidang.

Setelah semua persyaratan untuk mengambil matkul tesis terpenuhi ikuti alur selanjutnya.

Alur tugas akhir: MENGONTRAK MATKUL TESIS -> MENGAJUKAN PROPOSAL PENELITIAN -> SEMINAR PROPOSAL PENELITIAN -> MENGAJUKAN DOSEN PEMBIMBING (DOSPEM) -> MELAKUKAN PENELITIAN DAN BIMBINGAN -> SIDANG 1 -> REVISI -> SIDANG 2 -> WISUDA

Tiap langkah-langkah di atas ada persyaratan administrasinya. Apa saja persyaratannya? Tanya prodi masing-masing jurusan, ya. Di tahap akhir, selain berurusan dengan penelitian, kita juga akan sibuk dengan urusan berkas/administrasi ini hehe.

Dosen Killer

“Dosennya gimana? Apakah banyak ‘dosen killer’?” Pertanyaan yang terdengar lucu, tapi memang membuat penasaran orang-orang yang suka cari ‘aman’. Hampir semua pembaca di blog lama saya menanyakan hal itu. Secara umum kesan yang bisa saya berikan adalah:

1) beberapa dosen pelit nilai/idealis/standard tinggi, 2) banyak dosen yang tegas dan disiplin, 3) beberapa dosen berkarakter ‘to the point’ saat diskusi (tidak banyak bicara/basa basi), 4) beberapa dosen susah dihubungi (hubungi lewat asisten atau tatap muka untuk janji temu), 5) beberapa dosen penyabar dan supportif (cocok untuk mahasiswa yang ‘susah lulus’ hehe). Namanya juga manusia. Pasti memiliki karakter beragam.

Ntah amalan apa yang saya lakukan, tapi saat melewati proses akhir saya dapat 2 dospem dan 2 dosen penguji dengan karakter nomor 5. Banyak-banyak berdoa saja lah, ya haha.

Kalau dosen yang suka marah-marah tidak jelas, menurut saya tidak ada. Mereka selalu mempertimbangkan alasan terlebih dahulu sebelum ke fase ‘murka’. Paling sering ngajak debat saja. Tentu, masalah ini subjektif. Mungkin buat saya dosen-dosennya ‘baik’, tapi buat orang yang pernah dapat dosen ‘super pelit’ beda lagi pendapatnya.

Bisa Kuliah Sambil Kerja?

Pihak kampus tidak melarang mahasiswa untuk berkuliah sambil bekerja. Pertanyaannya adalah “apakah kamu akan mampu mengatur waktu? Apakah kamu akan memiliki energi untuk keduanya?”. Apabila jawabannya, “iya, saya siap dan yakin akan bisa melakukan keduanya.” GAS AJA!

Beberapa teman-teman saya juga berkuliah sambil bekerja. Lulusnya malah lebih cepat dari saya yang tidak bekerja pada waktu itu. Ini semua masalah niat sih. Tipsnya 1) jangan menunda-nunda, 2) Jangan biarkan tugas atau tesis terbengkalai lama karena memulai sesuatu kembali itu sangat susah.

Sekian informasi yang bisa saya sajikan. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *