Tiga Kesan untuk Teman-teman India Saya Dulu

Kasus kejahatan seksual yang menimpa turis Spanyol di wilayah Jharkhand telah merusak citra negara India. Orang-orang, terutama wanita, semakin waspada apabila hendak bepergian ke negara itu. Untuk sebagian orang, kasus ini mengingatkan pengalamannya terkait India dalam hal traveling, berteman, atau bekerja secara umum. Saya sendiri jadi teringat dengan pengalaman berteman online dengan orang-orang India di tahun 2009 – 2014.

Selama periode itu, saya masih usia SMA hingga kuliah. Penyebaran internet masih sangat baru dan masih banyak dipakai untuk chatting dan bermain game di kalangan anak muda. Aplikasi chat online dan media sosial mulai berjamur. Udah lupa lagi nama-namanya, tapi kebanyakan dari mereka menyediakan fitur chat online dengan komunitas dunia, seperti ICQ dan Nimbuss, yang mana sangat mudah buat kita mengobrol dengan orang asing.

Setiap kali saya masuk chatroom, 100% yang pertama ngeDM itu orang-orang Asia Selatan India, Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka. Lumayan eneg wkwkwk kayaknya dunia maya isinya mereka semua.

Urusan game lebih bervariasi sih. Selain Asia Selatan, saya biasa ketemu orang Asia Tenggara, khususnya Vietnam. Ada satu game MMROPG mobile yang sering saya mainkan di tahun 2014, namanya Order and Chaos (OAC). Lagi stress ngurusin skripsi, jadi lari ke game online. Selama 3-4 bulan saya main, dengan durasi rata-rata 20 jam sehari 🙁

Saya betah main game karena udah ikut guild dan ketemu orang yang solid dan asik buat main berkelompok. Salah satu di antaranya ada orang India juga. Dia 3-4 tahun lebih muda dan paling sering party bareng sama saya. Selain ngomong game kita juga suka ngobrol tentang negara masing-masing. Suka ngajak debat juga, tapi saya kan lebih dewasa jadi dibawa santai aja.

Dari aplikasi chatting dan game online itu, saya mendapatkan tiga kesan yang masih membekas untuk warga Prindavan.

Apapun Agamanya India-Pakistan Hate Each Other

Ini pengalaman lucu sih. Saya dulu join komunitas online lewat media sosial khusus muslim (katanya sih begitu). Dulu tuh masih inget, punya temen dari Lampung namanya Mbak Era, Mbak Apple dari Jakarta, trus ada yang lagi studi di Mesir juga. Seneng kalau udah ngobrol sama mereka hahaha bahas agama sambil bercanda, saling sindir. Kalau orang luarnya kebanyakan dari Pakistan sama Arab.

Nah suatu ketika, ada beberapa orang luar yang invite saya ke grup chat di Whatsapp yang katanya dibikin room supaya lebih private dan roomnya lebih terkontrol. Isinya dikit sih, kurang dari 10 orang dan semuanya muslim.

Awalnya kita ngobrol biasa-biasa aja, saling mendoakan trus ngobrolin berita, agama, dan olahraga. Orang-orang ini masih baru ketemu. Kadang ada temannya teman juga yang dimasukin jadi paling baru kenal nama aja di awal-awal.

Kemudian ada satu orang yang ngebahas hasil pertandingan kriket, olahraga yang sangat populer di Asia Selatan. Direspon dengan antusias oleh member lain yang baru masuk beberapa jam lalu karena ternyata sama-sama penggemar olahraga itu. Sampai mereka saling nyapa ‘bro’ dan terlihat akrab banget. Olahraga menyatukan manusia….

Sampai akhirnya, salah satu dari mereka nanya, “where are you from, bro?” Trus dijawab “I’m from India.” Langsung lah yang tadinya akrab berubah jadi perang, dibuka dengan “Wtf, I’m Pakistan…” kemudian mereka lanjut menjelekkan negara masing-masing, seperti Pakistan negara miskin amburadul, India suka ngajak berantem di perbatasan, tim Pakistan mainnya jelek, India negara jahat dll. Yang tadinya terlihat akrab langsung saling serang hingga orang yang dari India left group. Ngeri banget. Saya kira kalau sama-sama muslim, India dan Pakistan enggak akan bentrok. Politik menghancurkan persahabatan…

Memang ini pure masalah negara atau politik kedua negara. Mirip Malaysia-Indonesia, tapi mungkin lebih parah sih. Dulu, tiap chat sama orang India, 90% mereka benci Pakistan. Dan sebaliknya, tiap chat sama Pakistan kemudian ngebahas India, kebanyakan dari mereka bakal langsung kasih warning, ‘jangan deket-deket sama orang India’ atau ‘ngapain kamu temenan sama orang India’. Itu diungkapkan bukan cuma sama remajanya, tapi juga sama orang-orang dewasa muda, usai 22 ke atas.

Teman India Saya Ngamuk Kalau Ngebahas Muslim

Ini aneh banget. Teman saya yang di game OAC adalah seorang Hindu India. Pada waktu itu saya belum paham situasi Hindu-Muslim di sana seperti apa. Dalam pikiran saya, itu hanya perselisihan dua agama yang umum terjadi. Di Indonesia juga dulu terjadi kasus berbau agama, tapi ya daerah saya yang tidak berkonflik biasa-biasa saja. Malah murid-murid di sekolah menjauhi topik tentang agama/konflik, dan enggak tertarik aja untuk memulai debat karena udah tau kepercayaannya beda, perspektifnya beda, mau gimana lagi? Dan buat apa didebatin? Ternyata lebih dari itu. Konflik Islam-Hindu di India sudah terjadi dari ribuan tahun yang lalu dan kebenciannya tuh udah mendarah daging.

Teman India ini sudah tahu kok saya dari Indonesia dan seorang muslim. Selama main game, gak ada masalah karena memang urusan kita main game aja gak bawa-bawa agama. Malah dia yang paling rajin ngajak party (grup) buat eksplore map dan dungeon bareng. Saking deketnya dia sering curhat urusan pribadi, terutama sekolah dan pressure dari orang tuanya buat kuliah di London. Nampaknya, kita main game karena sama-sama stress dengan urusan sekolah.

Suatu ketika, dia ngajak untuk berlatih speaking (bahasa Inggris) buat bantu les bahasa Inggris dia (prepare buat kuliah di luar). Trus dia telepon saya. Itu pertama kalinya saya ngobrol pakai bahasa Inggris dengan orang asing. Dia say hi, dan menyemangati, ‘jangan malu, Rahma, bahasa Inggris kamu bagus kok’ kira-kira begitu. Meskipun dia udah sering ngomong Inggris di kesehariannya, you know lah accent Indianya medok banget.

Saya salut sama teman saya ini. Kepercayaan dirinya dalam berbahasa Inggris jauh lebih tinggi meskipun pronunciation, grammar dan vocabulary-nya sama-sama terbatas seperti saya. Berbeda dengan teman itu, saya benar-benar gak PD bicara dengan bahasa Inggris. Lebih banyak mendengarkan dan cuma respon “I think … because…”. Selebihnya dia yang panjang lebar ngerespon balik.

Nah, tiba-tiba out of nowhere dia ngebahas agama, “Rahma, why are you muslim?” Lah kaget dong ditanya begitu. Saya jawab, “because I was born in a muslim community and I learn about the religion so I become a muslim.” Trus dia kaya gak puas gitu sama jawabanya. Malah ngejabarin panjang lebar tentang Islam agama setan, trus dia bilang muslim-muslim di sana pada bodoh, bertindak gak pake otak, Qur’an itu sesat. Lalu nanya ‘kenapa sih muslim begitu?’ Ya, saya mana tahu muslim di seluruh dunia kaya gimana 🙁 kan kita beda tempat, beda situasi, beda budaya. Terus intonasi dia semakin meninggi dan ngomong makin cepat, kaya sales gitu.

Dia nanya ‘why?’ Saya jawab ‘I don’t know :D’ (maksudnya sih biar dia gak ngamuk-ngamuk terus). Tiap saya kasih alasan, dia selalu gak puas dan ngerasa bukan itu alasannya. Kan saya jadi bingung sendiri.

Trus dia jelasin Islam versi dia; dia yang mendeskripsikan muslim India; dia sendiri yang ngamuk-ngamuk 😀 Saya cuma respon, “hmmm, wow,” dengerin aja dia ngoceh. Sampai dia minta maaf sendiri ke saya, “sorry, Rahma, I got carried out. I believe you aren’t muslim like muslim here.” Saya cuma respon, “yeah, no problem.” Trus dia lanjut, “Okay, let’s talk about something else.”

Dia nanyain tentang topik sekolah, trus rencana dia buat kuliah di London serta jurusannya. Eh tiba-tiba dia nanyain lagi tentang Islam, “I just don’t understand, Rahma, why are you muslim? Why you chose stupid religion?” Dan dalam hati saya cuma bengong, like ‘really, boy? You still ask me about that?’ Cuma ketawa aja sih, “well, I don’t know. I just like this.” Trus dia ngamuk-ngamuk lagi masalah Islam dan muslim India, minta maaf, dan ganti topik pembicaraan.

Hingga percakapan berakhir, pola ngamuk-minta maaf-ganti topik berulang beberapa kali. Sampai saya mikir, “apakah teman India saya ini sakit jiwa?” Soalnya kalau ngomongin topik lain dia ramah banget sama saya. Dia berubah agresif kalau dia inget sama Islam atau muslim. Padahal bukan saya juga yang ngucapin 2 kata itu duluan. Dia nyari masalah sendiri gitu 😀 bingung saya juga.

India Negara yang Kaya dan Luas

Kita semua tahu lah ya, negara India tuh timpang banget. Yang miskin, miskin banget. Yang kaya, kaya banget. Trus di beberapa daerah ada sistem kasta. Meskipun mungkin sistem itu sudah lapuk dan mulai ditinggalkan, bekas-bekas dari penerapan sistem itu masih terasa nyata sehingga orang-orang yang dulunya masuk di kasta bawah masih sulit untuk ‘naik kasta’.

Terlepas dari urusan status sosial dan finansial, India adalah negara yang kaya akan budaya. Dulu saya cuma tahu “agamanya Hindu, bahasanya bahasa India, orang aslinya berkulit gelap,”. Ternyata agama Hindu di India juga bervariasi, kaya ada aliran-aliran gitu dan bahkan namanya ada yang beda juga, tapi biasa kita pukul rata, disebut ‘Hindu’. Bahasanya ada bahasa nasional, bahasa Inggris, dan bahasa ibu tiap daerah yang berbeda-beda. Kulit orang India juga bervariasi, dari gelap ke terang, dari Selatan ke Utara. Bahkan ada juga ras yang berasal dari daerah utara (Cina, Mongol, Nepal). Sipit seperti Asia Timur, tapi mereka aslinya orang India karena lahir dan hidup di teritori India.

Nah, sama seperti Indonesia, tiap daerah di India punya budaya dan situasi berbeda-beda. Lebih jauh lagi, mereka punya ‘urusan’ masing-masing. Pelajaran ini saya ambil mana kala chat dengan orang Kristen India. Saya nanya, “kenapa sih wanita India pakai tempelan bulatan merah di keningnya? Artinya apa?”. Nah, temen saya cuma bilang, “I don’t know”. Trus saya respon, “kok gak tahu? Kan kamu orang India?”. Trus dia jawab “well, di daerah saya enggak ada wanita yang pakai bulatan merah di keningnya. Mungkin itu di daerah lain. Di agama saya juga enggak ada kebiasaan seperti itu.” Saya cuma bilang “ohhhh”.

Hanya karena saya lahir dan hidup di Indonesia, bukan berarti saya mengetahui semua adat kebiasaan orang-orang di seluruh Indonesia, apalagi terkait kepercayaannya. Begitu juga dengan mereka. Kita sebaiknya tidak mengeneralisasi suatu kejadian di suatu tempat di India dan menganggap hal itu lumrah terjadi di seluruh India. India itu luas banget, sedangkan pengetahuan dan pemahaman manusia sangat terbatas.


Jadi ini adalah tiga pengalaman yang masih membekas saat berbincang dengan teman-teman online dari India dulu. Kalau dengar berita-berita Prindavan, saya selalu ingat percakapan-percakapan di atas.

Pengalaman kalian gimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *