Kejahatan Video Call Sex (VCS) atau Sextortion

Kejahatan video call sex (VCS) menimpa suami saya beberapa waktu yang lalu. Ini benar-benar kejadian yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Lumayan agak kaget pas dikirimi foto-foto aneh oleh orang tak dikenal. Setelah suami memperlihatkan awal mula kejadian hingga akhir percakapan dengan si pengirim, saya benar-benar yakin bahwa ini scammer bercampur dengan sextortion (pengancaman dan pemerasan dengan penyebaran informasi pribadi dan konten seksual).

Beruntung, saya pernah baca thread viral di Twitter sekitar 1-2 tahun lalu tentang modus kejahatan seperti ini jadi saya tidak terlalu syok di awal kejadian. Modus pada umumnya, pelaku yang berpura-pura menjadi orang lain mengumpan korban untuk melakukan chat sex hingga meminta untuk tukar foto/video seksual. Ini bisa menimpa laki-laki ataupun perempuan, ya. 

Selain modus berpura-pura, ada juga yang hanya sekedar membuat video call kepada calon korban. Ketika korban menerima panggilan videonya, pelaku membuat tangkapan layar tampilan video call dan mengedit foto tersebut, seolah korban sedang melakukan VCS. Setelah mendapatkan foto pribadi korban, pelaku akan meminta sejumlah uang disertai dengan ancaman penyebaran data pribadi berkonten seksual kepada orang-orang terdekat korban.

Kejahatan ini dilakukan dalam komplotan. Mereka berharap mental korban lelah dengan banyaknya teror yang mereka kirim dan akhirnya korban mengirim uang sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, akan ada banyak nomor dan intimidasi yang diterima dalam rentang waktu yang pendek.

Pada kasus saya, suami mendapatkan video call dari nomor tidak dikenal. Bodohnya, dia menerima panggilan itu dan katanya tidak ada yang nampak di layar hp-nya, hanya hitam saja. Selang beberapa detik, panggilan dihentikan oleh si pemanggil itu. Tidak lama, nomor tersebut mengirim pesan untuk meminta ‘pertanggungjawaban’ disertai ancaman penyebaran data pribadi. 

Sadar dengan apa yang terjadi, suami pesan-pesan mereka dengan nada bercanda. Kemudian makin banyak nomor tak dikenal berdatangan ke WA dengan bahasa yang sangat kasar. 

Menjelang subuh, saya terbangun dan sudah menemukan suami tertawa-tawa membalas pesan-pesan di WA. Lalu, dia memberitahu saya semua yang terjadi karena takut istrinya ini termakan fitnahan foto-foto dari pelaku di kemudian hari.

Well, alurnya sangat mirip dengan kasus di Twitter. Maka, saya langsung 80% percaya pada suami saat itu juga. 20%-nya adalah space untuk berfikir lebih kritis. Saya juga perlu bukti untuk menemukan kebenaran supaya memiliki kepercayaan tinggi saat membela suami saya nanti. 

Pelaku mengirim 3 foto: 1 foto tangkapan layar VCS fake, 1 percakapan WA fake, dan 1 foto profile IG suami. Saya tau percakapan itu fake karena typingnya bukan khas suami saya. Sedangkan untuk foto video call, saya perlu membandingkannya dengan tangkapan layar tanpa manipulasi.

Ini tangkapan layar yang dikirim pelaku. Terlihat gambar suami saya sedang menerima video call dan sebuah kotak untuk foto si pemanggil di sudut kanan atas. Saya blur untuk privasi dan konten sensitif.

Kejahatan video call sex

Dulu saya pernah mendengar, cara paling sederhana untuk meneliti apakah sebuah foto dimanipulasi atau tidak adalah dengan memperhatikan pixel-pixelnya melalui fitur zoom in. Apabila terdapat pixel yang berantakan/terkikis, kemungkinan besar foto tersebut telah diphotoshop atau dimanipulasi. Jadi, saya lakukan hal itu. 

Saya coba bandingkan hasil tangkapan layar pelaku dengan tangkapan layar tanpa manipulasi di galeri. Berikut hasilnya.

Foto tanpa manipulasi di sebelah kiri menunjukkan pinggiran kotak yang rapih karena dibatasi oleh garis putih transparan. Sedangkan, yang kanan, tangkapan layar dari pelaku sextortion, memiliki pixel yang berantakan di sudut-sudut kotaknya. Terlihat ada pixel-pixel yang terhapus tidak rapih sehingga sudut terlihat lebih kotor.

Bisa diartikan kemungkinan besar foto kotak di tangkapan layar pelaku adalah sebuah tempelan. Untuk melihat perbedaannya, memang harus benar-benar teliti. Silakan zoom in kembali supaya bisa melihat perbedaan kerapian pixel pada foto non-editted dan editted.

Siang harinya, ada pesan masuk ke DM instagram saya. Melihat profile picturenya, saya tau ini si pelaku. Dia mengirim 3 foto yang terkirim ke suami saya sebelumnya. Awalnya tidak mau balas pesan-pesannya, tapi penasaran juga alur cerita yang akan dibuat pelaku ini. Akhirnya saya balas juga dengan segala kerendahan hati dan kesantuyan yang saya miliki. Berikut percakapannya. 

Percakapan pengancaman

Kemungkinan besar pelaku menggunakan foto-foto dan nama orang lain juga dalam berkomunikasi. Jadi, saya tidak begitu peduli dengan pertanyaan “bagaimana bentuk wujud para pelaku? Laki-laki atau perempuan? Namanya siapa?”.

Saya diminta suami untuk mengecek nomor-nomor yang digunakan pelaku melalui aplikasi Get Contact. Ada beberapa nama yang muncul dan semua nomor mengarah ke Palembang, tapi saya pikir bisa saja nomor yang dipakai berupa nomor recycle (atas nama orang lain) sehingga informasi ini tidak bisa dijadikan patokan juga.

Oia, setelah selesai DM saya mereka mengirim video ke suami yang menunjukkan percakapan saya dan mereka saat melakukan ‘teror’ lewat DM instagram tadi. Dari video itu juga terlihat sebuah tangan, yang mana tangan itu bukan punya perempuan. Laki-laki :’) Kemungkinan besar para pelaku ini laki-laki. Jadi geli.

Akhir cerita, para pelaku berhenti meneror di hari kedua, bertepatan di hari pelaku mengakhiri pesan DM ke instagram saya. Suami juga sudah 95% mengabaikan pesan-pesan pelaku. 5%-nya adalah batas kepedulilan kami. Jika sudah mengganggu tempat kerja, kami mau langsung pergi ke kantor polisi terdekat. Minimal kami bisa menunjukkan keterangan resmi dari pihak berwenang sebagai korban pemalsuan data dan sextortion kepada atasan atau pihak-pihat terkait yang memerlukan.

Nah, dari pengalaman ini, mudah-mudahan teman-teman bisa lebih pandai dari suami saya dengan tidak menerima panggilan dari nomor tidak dikenal sembarangan, apalagi berupa video call. Logikanya, apabila orang tersebut memang perlu menelepon dan bersifat penting, pasti dia akan mengirimi teks dengan informasi meyakinkan. 

Yang kedua, berbicara lah kepada orang terdekat yang lebih tenang dan ‘waras’ sebagai pendamping sekaligus untuk menenangkan pikiran sebelum membalas atau merespon intimidasi yang diterima. Baiknya sih abaikan saja pesan-pesannya. Biarkan saja pesan-pesan masuk sambil menyimpan percakapannya ke arsip supaya tidak memunculkan banyak notifikasi. Biasanya kalau kita blok, nomornya makin beranak.

Pengalaman dari seorang murid saya yang pernah mendapat teror penagihan pinjaman online yang tidak dia miliki, mengirimi uang membuat pelaku lebih bersemangat mengirim teror dan terus-menerus meminta uang dengan nomor yang berbeda-beda. Pelaku memangsa rasa takut, syok dan rasa lelah korban. Jangan pernah terburu-buru mengirimi uang ketika mendapatkan ancaman atau intimidasi, terutama ketika kita tidak merasa melakukan hal yang salah. Oleh karena itu, poin terakhir adalah jangan panikan :’)

Sekian cerita dari saya, semoga ada pelajaran bermanfaat untuk teman-teman. See you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *