iPad Pro M1 Chip: Pokoknya Puas!

Salah satu wishlist saya tahun lalu yang alhamdulillah sudah tercapai adalah memiliki sebuah iPad. Awalnya, ingin membeli varian standard saja, tapi melihat tabungan lumayan sisa banyak jadi saya agak maksa untuk membeli varian tertinggi. Harganya tentu lumayan sih, bikin sesak juga. Belum lagi 3 bulan setelah beli, iPad Pro M2 dirilis dengan harga yang tidak jauh berbeda. Mulai muncul perasaan menyesal, “kenapa gak sedikit bersabar supaya dapat seri paling baru?” atau “kenapa tidak beli bekas saja yang jauh lebih murah?”

Anehnya semakin lama, rasa menyesal itu semakin pudar. Bahkan tidak ada keinginan untuk upgrade device. Setelah 6 bulan memakai iPad Pro M1 Chip, saya merasa tidak ada alasan untuk menyesali keputusan yang dibuat dan tidak ada keinginan untuk mengganti. Ternyata, pujian-pujian orang terhadap iPad seri ini memang tidak berlebihan. Sangat memuaskan dari semua sisi, mulai dari layar, suara, prosesor hingga baterai.

Ini juga disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari. Sebagai user dengan pemakaian medium, semua kebutuhan saya sudah terpenuhi. Aktivitas saya sebatas membuat soal dan laporan siswa, menampilkan materi, edit foto/video sederhana, dan bermain game. Dengan aktivitas seperti itu, mungkin iPad Pro M1 ini malah terlalu kuat. Untuk kasus saya, rasanya lebih cocok downgrade saja daripada upgrade device.

Berikut beberapa fitur iPad Pro M1 Chip yang sangat memuaskan.

Layar dan Prosesor

Untuk kebanyakan orang jenis layar memang tidak begitu penting. Kadang layar IPS atau OLED sekilas terlihat sama saja ketika menampilkan foto atau video. Ada pun perbedaan pada akurasi warna, tidak begitu mengganggu. Nah, yang membuat saya sedikit kagum ada di bagian refresh rate. Saya sering memakai setting default di 120Hz di iPad atau pun Hp sehingga pergerakan di layar lebih smooth. Ketika memegang device lain dengan refresh rate lebih rendah, mulai terasa perbedaan kenyamanan saat scrolling dan melihat efek animasi pada layar.

Kenyamanan layar iPad sudah diapprove oleh teman-teman saya yang lain, “baru juga lihat layar, sudah terasa beda (kualitas)….” kira-kira begitu. Hanya melihat layarnya saja, orang-orang jatuh cinta.

Setiap aktivitas pada settingan menengah dan tinggi tidak membuat performa iPad menurun karena ada M1 chip yang bertenaga. Pokoknya, ketika user ingin tampilan yang mulus dan indah, tidak ada kata lag atau force stop setiap kali buka-tutup dan pindah aplikasi.

Memainkan Genshin Impact juga sangat nyaman sekali. Saya kasih rate sempurna untuk tampilan dan performanya!

Baterai

Aspek baterai sangat di luar ekspektasi. Dengan layar indah dan prosesor ‘ganas’ saya pikir iPad akan menjadi lebih boros. Ternyata malah awet sekali. Saat awal-awal beli, saya belum banyak beraktivitas di iPad. Hanya sekedar mengetik dan mengedit dokumen dengan screen time sekitar 4 – 6 jam sehari. Saya hanya perlu mengisi daya setiap dua hari saja.

Ketika tidak dipakai sama sekali, baterai juga tidak berkurang 1% pun. Buat saya ini luar biasa. Why? Karena baterai Hp Samsung saya selalu berkurang banyak meski tidak dipakai. So, baterai hemat di kelas premium itu sesuatu yang sangat luar biasa.

Bagaimana dengan bermain game? Saya biasa main Genshin Impact di settingan medium dan iPad ini bisa bertahan sekitar 3-4 jam (dari 100% ke 20%) dan tidak terlalu panas.

Suara

Bagian yang diremehkan orang-orang. Sama seperti layar. Katanya, beda dikit gak ngaruh karena bisa ditunjang dengan speaker eksternal. Tapi, tetap ya. Kualitas suara iPad memang enak didengar. Empuk, sopan di telinga.

What I don’t like

Ini beberapa hal yang tidak saya sukai dari iPad.

  1. Harga hehehe termasuk aksesoris pendukungnya yang rata-rata lebih mahal dibandingkan versi Android.
  2. Aplikasi berbayar, “apa-apa bayar.” Memang tidak semua aplikasi sih ya, tapi misalnya kalau saya ingin edit dokumen di aplikasi Microsoft Office, saya wajib berlangganan 1jutaan setahun. Seandainya sekali bayar, saya pasti beli. Kalau langganan, enggak dulu deh.
  3. Tablet belum support aplikasi WhatsApp/chatting, kalau buka Whatsapp, harus lewat browser.
  4. Agak ribet pindah-pindah file. Intinya, di beberapa kasus, kadang kita harus memindahkan atau mencopy file ke folder lain sebelum bisa diimport ke suatu aplikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *