Baterai Samsung S22 Ultra Boros

Masalah baterai boros di hp-hp flagship memang sudah bukan hal yang baru. Saya hanya kaget ternyata baterai Samsung S22 Ultra borosnya di luar ekspektasi. Cerita ini bukan ingin menjelek-jelekan suatu brand. Hanya sekedar memberikan informasi ke calon pembeli bermode hemat yang ingin mencicipi hp flagship untuk pertama kalinya supaya tidak berkespektasi terlalu tinggi di segi ketahanan baterai.

Sejauh ini saya juga masih senang dengan Samsung S22 Ultra. Meskipun beli bekas, kebetulan hp ini masih memiliki tampilan ‘segar’ tanpa lecet. Bahkan dulu, plastik-plastik di badannya masih menempel dan kabel charger belum terpakai sama sekali. Jarak waktu pertama kali beli sampai saya beli kembali kurang dari satu tahun, “masih fresh” kata abang counternya. Masih ada garansi Samsung.

Kondisi baterai dan fitur-fitur penting dicek menggunakan aplikasi bawaan Samsung sendiri. Hasilnya menunjukan semua fitur dalam kondisi baik dan sehat, termasuk baterai. Saya beli di awal tahun 2023 dan masa garansi masih sampai September 2023. Intinya, ini hp bekas yang masih sangat baru.

Alasan Beli Samsung S22 Ultra

Intinya sih saya ingin mencicipi hp kelas paling atas. Kok bisa mahal begitu kenapa ya? Saya menemukan perbedaan signifikan di kamera, layar dan prosesor. Kamera super bening. Layar cantik (seperti tidak penting tapi kalau sudah merasakan pasti bakal terasa beda). Anti lemot saat pindah-pindah atau buka tutup aplikasi.

Sisi negatifnya, saya jadi mudah kesal pas buka aplikasi di hp yang berspesifikasi lebih rendah, “ihhh buka aplikasi ini aja harus nunggu lama?” Padahal saya cuma nunggu 6-10detik Performa hp flagship jauh dengan hp di bawahnya.

Untuk kelas flagship, ada dua jenama yang menjadi ‘musuh bebuyutan’. You all know them so much, Samsung dan Apple. Saya beli Samsung karena termakan persepsi negatif orang-orang terhadap keborosan baterai iPhone yang dicap boros banget, kira-kira seperti ini “Ihh iPhone mah boros banget. Gak usah ngegame. Sayang baterai. Beli Pro Max kalau mau.” Budget saya cuma nyampe di iPhone standard aja which has smaller baterry capacity than Samsung Ultra.

Nah, sekarang teman-teman tahu kan alasan utama saya memilih Samsung dari pada brand lain adalah karena baterai. Ekspektasi saya, “sehari satu kali charge aja udah cukup, no problem. I know a flagship phone consumes more energy”. Saya juga udah janji tidak akan main game supaya baterai lebih awet. Ternyata tidak begitu realitanya.

Jangan terlalu fokus dengan angka kapasitas baterai yang besar. Apalagi, termakan jargon hemat baterai di hp kelas atas. Enggak ada ceritanya begitu. ‘Mewah sama dengan boros’ ini udah yang paling bener.

Seboros Apa Samsung S22 Ultra Saya?

Pertama kali mencoba, saya sudah merasakan keborosonnya. Hp tidak dipakai apapun, di simpan di atas meja sehabis charging, bisa hilang 5 sampai 10 persen dalam waktu 30 sampai 1 jam. Buat yang sudah biasa pakai hp midrange agak syok sih. Gak diapa-apain, gak disentuh, udah hilang 10% aja.

Mungkin settingan hpnya? Saya matikan fitur yang tidak penting, terutama di bagian layar seperti always on display. Bagian yang menyita energi memang layar kan?! Lumayan sih, keborosan berkurang sedikit. Masalahnya, saya gak puas aja lihat hp bagus, tapi layar dan fiturnya pakai mode hemat. Pengalaman pemakaiannya jadi terasa murah juga.

Kemarin malam sebelum tidur, baterai masih menunjukan 71%. Bangun subuh di jam 4.30, baterai menjadi 51% dengan kondisi tethering dan mode hemat daya menyala. Jam 7 sudah bersisa 36%. Cukup normal sih. Udah lah ya, hemat untuk versi ‘premium’. Soalnya hp juga dipakai tethering.

Solusi Hp Boros

Pertama, merubah pemahaman. Istilah ‘hemat baterai’ di sebuah hp flagship tidak akan sama dengan baterai di hp kelas menengah ke bawah. Keduanya memiliki fitur dan spesifikasi yang berbeda. Tidak bisa disamakan.

Mau beli hp kelas tertinggi? Apapun brandnya rata-rata mereka bisa bertahan 12 jam saja untuk sekali charge (batas di 20%) dengan pemakaian ringan ke normal. Berdasarkan pengalaman, angka 12 jam itu malah sudah termasuk hemat.

Kedua, memakai fitur-fitur mode hemat dengan konsekuensi tidak mendapatkan pengalaman ‘premium’. Mending charge 2x sehari dari pada tidak dapat rasa ‘premium’. Kan beli hp flagship biar merasakan fitur primiyumnya? Iya gak sih?

Solusi ketiga, jual aja tuh hp. Ganti hp dengan hp cenit-nit atau Samsung a02 buat chat di Whatsapp seperti punya ibu saya. 2 hari gak dicharge masih ada sisa 10%

Akhir Kata

Saya ini mungkin termasuk pada golongan ‘orang gak jelas’. Punya jiwa hemat, tapi malah nyari hp spek mewah. Enggak jelas. Kalau ingin hemat, ya pilih hp hemat.

Sudah hampir 6 bulan bersama Samsung S22 Ultra. Tidak ada fitur yang saya komplain, selain baterai. Maksudnya, kalau tahu borosnya begini mending saya beli iPhone sekalian toh saya juga udah punya iPad saya pada waktu itu keukeuh menghindari iPhone karena memang terkenal boros baterai, eh ternyata Samsung sama saja.

Dipikir-pikir, kalau sudah punya iPad memang lebih baik memiliki iPhone dan akan lebih baik lagi jika dompetnya tidak ada dalam mode hemat! Banyak hal yang harus berbayar di iOS . Sekali bayar tidak masalah. Ini ada aplikasi penting semacam Miscrosoft yang harus berlangganan. Jadi beli iPhone gak nih, Rahma? Belum mampu rasanya.

Dari cerita ini, kita bisa lihat, jiwa hemat tidak baik bila bersama dengan si mewah. Solusinya, adalah mengikhlaskan. Take it or leave it. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *