Akhirnya Rahma Menikah

Alhamdulillah akhirnya Rahma menikah juga. Masih seperti mimpi bisa menikah di tahun 2023. Sebenarnya sejak awal tahun 2022, saya dan pasangan sudah merencanakan pernikahan tapi selalu tertunda oleh banyak urusan, seperti pekerjaan, kesehatan, finansial dan bahkan ditunda karena belum move on dari mantan wkwkwk (bukan saya).

Nah, di awal 2023 pun saya tidak terlalu excited ketika pasangan merencanakan pernikahan, “ah, paling bakal ditunda lagi sampai tahun depan.” Selalu ragu dan tidak begitu menanggapi ajakan menikah dari dia.

Keraguan Menikah

Pikiran-pikiran negatif seperti kegagalan pernikahan dan rumah tangga sering muncul juga. Pada waktu itu sering berseliweran video di media sosial yang membahas tentang pembatalan pernikahan atau pernikahan berumur jagung. Kisah-kisah itu membuat saya tidak begitu menanti pernikahan terjadi, bahkan semakin menambah keraguan.

Honestly, kebiasaan berada di zona nyaman—uang untuk diri sendiri, kebutuhan ditanggung orang tua—membuat saya takut untuk masuk ke zona lain. Udah nyaman kok harus berubah? Kok harus pindah? Bakal senyaman ini gak ya setelah menikah nanti?

Untuk menambah keyakinan untuk menikah, saya tanya pada pasangan kenapa dia yakin menikah, padahal sebelumnya dia sendiri selalu ragu dan takut ketika diajak menikah dengan alasan ketidakpastian pekerjaan/finansial. Dia bilang salah satu faktor yang menguatkan dan meyakinkan untuk lanjut ke jenjang pernikahan adalah bapak saya sendiri.

Waktu itu dia pernah mengobrol beberapa kali dengan bapak terkait pernikahan dan rumah tangga. Katanya sih, ucapan bapak sangat menenangkan hatinya yang ragu dan takut untuk berumah tangga. Karena bapak dia sendiri sudah tidak ada dan saudara-saudaranya tidak begitu membantu ketika diajak berdiskusi, kehadiran bapak saya ternyata bisa mengisi bagian yang hilang di hidupnya.

Dengan ketenangan yang dia peroleh dari bapak, dia menjadi lebih siap untuk menikah, lebih tenang dan berpikiran luas dalam urusan mencari rezeki.

Ujian

Saya juga merasakan ujian yang mungkin sering dialami oleh orang-orang menjelang pernikahan. Dari semua ujian, yang paling menguji hati saya adalah perkara egoisme. Saya ingin pernikahan sederhana saja. Berkumpul bersama keluarga dan tetangga, tanpa ada resepsi atau tamu undangan jauh. Sedangkan, orang tua memiliki keinginan lain.

Perbedaan pendapat tentang bagaimana pernikahan akan digelar membuat emosi naik juga. Tidak jarang hubungan menjadi jelek gara-gara pelaksanaan pernikahannya. Orang-orang berpacaran selama bertahun-tahun, tapi hubungan hancur karena ada pergesekan dalam acara pernikahan. Tentu kita semua ingin menghindari hal itu.

Jujur saja, selama beberapa minggu sebelum menikah, mood saya sangat buruk. Sering adu argumen dengan ibu. Muak dengan hal-hal terkait ‘printilan’ pernikahan, “bajunya gimana? Makeupnya kemana? Baju seragamnya seperti apa?”.

Saya sampai melepas cincin lamaran karena terasa eneg dengan diskusi persiapan pernikahan yang dibumbui perbedaan pendapat. Yang awalnya ingin sederhana, nyatanya sangat sulit untuk dilakukan. Semua rencana dan keinginan saya untuk acara pernikahan tidak terwujud karena terdapat perbedaan konsep antara saya dan ibu.

Hati saya luluh manakala ibu menangis. Beliau hanya berpesan bahwa segala hal yang orang tua lakukan semata-mata untuk menyenangkan anak dan keluarga besar. Tentu, saya kasihan melihat ibu menangis. Seharusnya bahagia melihat anak akan menikah, bukan malah sedih.

Sejak saat itu, saya berucap dalam hati, “saya ikhlas, ya Allah, dengan semua keputusan yang dibuat. Baik atau buruk, dan segala kekurangan yang terjadi pada acara nanti, saya ikhlaskan. Saya terima. Tidak akan marah. Demi rida ibu saya.” Saya mengalah dan mengikuti keinginan ibu.

Ta daaaa….. everything went smoothly. Yang tadinya saya tidak suka ini itu apalagi bertemu dengan orang banyak, pas hari H mood saya baik sepanjang hari. Memang betul ya, rida Allah adalah rida orang tua. Dengan catatan, orang tuanya mengajak pada kesalehan, ya… hehehe

Hari H

Nervous? Hmmm enggak terlalu, ya. Barangkali usia dan pengalaman sangat membantu mengurangi rasa gerogi. Usia saya 31 tahun saat menikah. Sudah sering menghadiri banyak pernikahan orang terdekat atau pun jauh hehehe Sudah tergambar kehebohan dan kesibukan pengantin menjelang pernikahan.

Saya pun sudah bersiap dengan segala kemungkinan terbaik dan terburuk. Hanya merasa malu saja karena dimake-up tebal, difoto-foto, dan dilihat banyak orang. Terutama pas bagian shoot foto dan video dari fotograpernya. Hahaha saya enggak bersiap untuk difoto-foto. Cuma fokus akad. Selesai akad, hati plooong… halal ya! Bisa jalan bareng-bareng kapan pun, kemana pun.

Pokoknya alhamdulilah bahagia… punya pasangan dan keluarga baru yang bisa menyatu dengan baik. Mungkin karena background keluarga kami juga tidak jauh berbeda dan ternyata banyak orang-orang yang saling terhubung, kami merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga besar. Jadi, untuk kasus saya, memilih pasangan yang sekufu itu sangat membantu dalam meningkatkan hubungan kekeluargaan.

Pasca Menikah

Namanya juga pengantin baru. Selalu bersama dengan orang yang kita cintai sangat menyenangkan apalagi saat menemukan hal-hal yang berbeda dari masing-masing individu.

Berbeda dengan saya yang seperti kucing indoor, kebetulan suami senang jalan-jalan dan mencicipi kuliner. Dari kebiasaan dia ini, saya mendapatkan pengalaman di tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi dan juga pelajaran untuk mengendalikan mood saat bepergian.

Saya juga berkesempatan tinggal beberapa hari di rumah mertua. Mohon maaf… saya bukan contoh menantu yang baik. Masih agak kaku bergaul dengan tetangga. Ingin beres-beres di rumah masih merasa segan karena ‘penguasa’ dapur dan rumah kan mertua juga hehehe Belum lagi kebiasaan dan kondisi rumah yang berbeda dengan rumah sendiri. Takut salah aja.

Nah, itu mungkin barrier atau tantangan terkait dengan wilayah kekuasaan mertua hahaha lebih ke sosialisasi di lingkungan dan upaya mencairkan suasana. Untungnya mertua saya masih tergolong santuy dan memiliki komunikasi yang sangat baik dengan anaknya. Jadi kalau ada apa-apa, beliau bisa ngobrol dan berdiskusi dulu dengan suami, terus dari suami disampaikan kepada saya dengan bahasa yang lebih santai. Untuk tahap awal, lebih enak begitu sih hehehe

Suami saya juga punya ponakan yang nempel banget dengan dia. Bahkan, bocil-bocil tetangga juga nempel ke suami. Mereka sering nginep di rumah mertua juga sehingga sebelum tidur suami sering menemani anak-anak untuk tidur terlebih dahulu. Serasa menikah dengan duda anak 5 hahaha

Ya, setelah menikah kita akan mendapatkan kejutan-kejutan dari pasangan, baik itu urusan keluarga atau pun urusan kebiasaan pribadi. Mudah-mudahan saja kejutan-kejutan yang muncul masih dalam kategori yang baik-baik, ya.

Doa-doa

Saya tutup tulisan ini dengan doa-doa, ya…

Wahai, Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.

Doa untuk suami saya yang sedang menjelajahi bumi dalam rangka mencari nafkah…

Mudah-mudahan Allah mendekatkan jarak tempuhnya yang jauh dan memudahkan perjalanan baginya…. ❤️ ❤️ ❤️

Yang belum bertemu dengan jodohnya tentu saya doakan juga semoga dipertemukan segera. Nah, selama ‘penantian’ itu, mudah-mudahan hatinya dikuatkan ketika menanggapi pertanyaan ‘kapan…?’ Dan ketika melihat kebahagian pasangan lain.

been there, done that, and felt that… semangat!

Terakhir saya sangat berterima kasih kepada keluarga besar dan teman-teman yang hadir serta mendoakan kami… semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *